September 28, 2012

Secangkir Kopi


Aku lebih senang menyamakanmu dengan secangkir kopi yang ku nikmati setiap pagi. Entah kenapa aku menikmatinya. Kopi itu terasa pahit, sedikit campuran gula juga tak membuatnya terasa lebih manis. Jika tak terasa pahit, kopi itu takkan bisa dinikmati. Atau mungkin jika tak terasa pahit, minuman itu tak disebut kopi. 
Tapi di dalam kepahitan itu ada kenikmatan, ada senyuman, terdapat mimpi dan perbincangan yang abadi. Menyeduhnya pelan, menghirup aromanya perlahan, membiarkan aroma dan rasa itu bertemu menjadi satu. Kenikmatan dalam setiap tegukannya membuat rasa tak ingin berbagi. 
Aku suka saat kamu tersenyum riang, tertawa lepas hingga kita tak perduli jika sekeliling memperhatikan. Namun senyum indahmu itu tak akan kugantikan meski dengan secangkir kopi berharga milyaran. Atau mungkin aku sudah tidak perduli lagi dengan kopi ini, karena sepertinya senyummu telah cukup menggantikan kopi sebagi penghangat pagiku nanti.

No comments:

Post a Comment